Kenali Jun
Jika pengunjung sampai ketulisan ini, berarti sudah sampai pada rasa ingin mengenal Junfajrun lebih jauh.
Muncul suatu pertanyaan mengapa sang pencipta menciptakan diri ini sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan memiliki kekurangan selayaknya manusia lainnya ?
Terlahir di Kota Bima pada tanggal 9 Juli 1997, angka kelahiranku memiliki keunikan tersendiri. Jika kita melihat bulan Juli yang merupakan bulan ke-7, kita dapat menuliskan angka kelahiranku sebagai 9 7 97. Siapa sangka, angka kelahiranku ini begitu unik dan istimewa?
Dari uniknya angka kelahiranku, ternyata ada juga sesuatu yang unik lainnya, yaitu bentuk wajah dan mataku. Wajahku memiliki ciri khas yang membuatnya menonjol di antara kerumunan. Beberapa teman bahkan sering bercanda bahwa wajahku mirip dengan bentuk bakso yang bulat dengan mata yang bulat juga. Meskipun awalnya mungkin merasa sedikit tersinggung, namun seiring berjalannya waktu, aku belajar menerima keunikan ini dengan bangga.

Tidak hanya wajah, bentuk mataku juga memiliki karakteristik yang unik. Mataku bulat dengan bulu mata yang melentik di salah satu sisi (bolla). Keunikan ini seringkali menjadi pembicaraan dan membuat orang-orang mengingatku dengan mudah. Pernah suatu kali, ketika sedang berbincang dengan ibu, ia tiba-tiba berkomentar, “Lentiknya bulu matamu nak!”. Kata-kata itu membuatku tersenyum dan merasa dihargai karena ibu menganggapnya sebagai ciri khas yang menarik.

Meskipun terkadang ada tekanan untuk mengikuti standar wajah yang dikomunikasikan oleh media dan masyarakat, aku belajar untuk merangkul keunikan yang ada pada diriku. Aku yakin bahwa setiap manusia memiliki keunikan sendiri yang membuatnya istimewa dan berbeda. Menerima dan mencintai diri sendiri dengan segala keunikan adalah kunci untuk merasa bahagia dan percaya diri.

Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa keunikan ini merupakan salah satu bagian dari identitasku. Keunikan ini membuatku berbeda dan menonjol di antara orang lain. Aku tidak lagi berusaha untuk menyembunyikan atau mengubahnya. Sebaliknya, aku memilih untuk merayakan keunikan ini dan menjadikannya sebagai kekuatan.
Sebagai manusia, kita semua memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing. Alih-alih merasa terbebani dengan harapan dan standar yang ditetapkan oleh masyarakat, alangkah lebih baik jika kita mulai merangkul keunikan kita sendiri dan menghargai keunikan orang lain. Hidup akan menjadi lebih indah jika kita bisa merayakan dan menerima keunikan kita sendiri, serta menghormati keunikan orang lain dengan saling menginspirasi dan mendukung dalam perjalanan hidup ini.

Dahulu Jun merasa minder dengan prestasi-prestasi yang dicapai oleh teman-teman SMA. Terutama karena hampir semuanya memiliki potensi yang luar biasa di bidang akademik, sedangkan Jun tidak begitu hebat.
Namun akhirnya, ada momen yang membuat Jun ikut serta dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan media Koran Harian Fajar. Meskipun awalnya Jun tidak tertarik karena rasa minder, teman-teman sekolah yang baik hati berperan penting dalam memotivasi dan ikut serta dalam tim untuk mengubah pikiran minderku.

Dari Exprience tadi, Jun mulai tidak gugup, dan selepas lulus SMA, akhirnya jun memutuskan untuk membuat film dokumenter angkatan . Dengan bantuan rekan angkatan tentunya…
Jika ditanya karya apa yang dibuat, inilah salah satu karya yang diciptakan pada saat masa SMA dulu. Setelahnya memutuskan untuk melanjutkan studi sebagai Mahasiswa Seni dan Desain di Universitas Negeri Makassar, mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual.
Kira-kira itu cerita singkat mengenai proses dalam berkarya, baca juga proses jun dalam belajar membuat film lainnya ( Baca di SINI )



