
Setiap kali ngobrolin soal karir, pertanyaan ini hampir selalu muncul: “Menurutmu, kuliah S1 itu masih penting enggak sih di era sekarang?”
Apalagi kalau kita melihat industri kreatif, media, dan teknologi saat ini. Rasanya skil teknis dan portofolio karya jauh lebih sering dilirik ketimbang lembaran ijazah. Bahkan tidak sedikit orang yang bisa sukses karirnya hanya berbekal belajar mandiri (autodidaktik), ikut bootcamp, atau langsung terjun ke lapangan.
Sebagai seseorang yang mengantongi latar belakang S1 Desain (S.Ds.) hingga Magister Komunikasi (M.I.Kom.), sekaligus sehari-hari bergelut langsung di lapangan sebagai Video Producer, VO talent, dan praktisi periklanan media, saya melihat isu ini dari dua sudut pandang yang berbeda.
Jadi, sebenarnya S1 itu masih perlu atau cuma sekadar formalitas? Yuk, kita bedah santai!
-
Di Lapangan, Portofolio Adalah “Mata Uang” Utama
Kalau jujur-jujuran, waktu pertama kali masuk ke dunia produksi media atau industri kreatif, hampir tidak ada klien atau tim produksi yang menanyakan ipk atau ijazah S1.
Ketika butuh mengeksekusi visual, membuat konsep video promosi, atau mengisi suara (voice over), pertanyaan pertamanya adalah:
“Boleh lihat portofolio atau contoh karya yang pernah kamu buat?”
Di titik ini, orang yang punya portofolio keren dan jam terbang lapangan akan selalu menang dibanding orang yang cuma punya gelar di atas kertas tapi minim karya nyata. Skil eksekusi, kelincahan di lapangan, dan kemampuan beradaptasi dengan alat atau tren baru adalah hal-hal yang biasanya kita asah lewat pengalaman langsung, bukan dari ruang kuliah.
-
Lalu, Buat Apa Kuliah S1 (Bahkan S2)?
Kalau memang skil dan portofolio begitu dominan, apakah artinya waktu 4 tahun di bangku kuliah S1 itu sia-sia? Jawabannya: Sama sekali tidak.
Belajar desain atau komunikasi di kampus itu beda fokusnya dengan sekadar belajar software lewat tutorial internet.
-
Perangkat Lunak vs Pola Pikir: Tutorial di internet mengajarkan kita caranya mengedit atau menggambar. Tapi pendidikan formal mengajarkan alasan di baliknya—kenapa konsep visual ini yang dipilih, bagaimana psikologi penyampaian pesannya, dan bagaimana menyelesaikan masalah klien secara terstruktur.
-
Kerangka Analisis & Manajemen: Saat melangkah ke jenjang magister (S2) komunikasi, sudut pandangnya makin luas lagi. Kita tidak cuma bicara soal “bikin konten yang viral”, tapi bagaimana mengelola manajemen komunikasi, riset media, serta strategi komunikasi yang lebih berdampak dan berjangka panjang.
Singkatnya: Pengalaman lapangan membuat kita cepat mengeksekusi, sementara pendidikan formal membuat kita paham arah dan strateginya.
Ringkasan: Mana yang Harus Dipilih?
Sudut Pandang Fokus Utama Cocok Untuk… Gelar S1 / S2 Pola pikir kritis, riset, manajemen strategis, dan pondasi akademis. Karir jangka panjang, posisi strategis/manajerial, akademisi, atau jalur formal. Portofolio & Lapangan Eksekusi teknis, hasil karya nyata, kepekaan tren, dan fleksibilitas kerja. Praktisi media kreatif, content creator, freelancer, dan wirausaha. -
-
Kesimpulan: S1 Perlu atau Tidak?
Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal: Apakah S1 masih perlu?
Jawabannya: Tergantung tujuan akhirmu.
-
Tidak wajib, kalau tujuan utamamu murni ingin menjadi praktisi teknis di industri kreatif yang mengandalkan keahlian langsung. Portofolio yang kuat sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kapasitasmu.
-
Sangat perlu, kalau kamu ingin punya pondasi cara berpikir yang terstruktur, mengincar peran strategis/manajerial di masa depan, atau ingin terus membuka pintu ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Formula terbaik menurut saya sebenarnya sederhana: Jangan cuma mengandalkan ijazah, tapi juga jangan cuma mengandalkan skil tanpa struktur berpikir. Gabungan antara pondasi ilmu yang kuat dan portofolio karya yang nyata adalah kombinasi paling solid untuk bertahan di industri apa pun.
Bagaimana menurut kalian? Masih menganggap S1 itu syarat mutlak, atau portofolio sudah menggantikan segalanya?
-
